Rabu, 01 Desember 2010

STROKE BERKAITAN DENGAN TRIGLISERIDA TINGGI

Stroke berkaitan dengan Trigliserida tinggi


Adakah Hubungan Stroke dengan Trigliserida Tinggi ??
Untuk pertama kalinya, para peneliti dari Sheba Medical Center di Tel Hashomer Israel mengindikasikan bahwa peningkatan risiko penyakit stroke juga berkaitan dengan kadar lemak darah yang disebut trigliserida.

Para peneliti itu juga mengungkapkan, trigliserida mungkin pula dapat digunakan untuk mengindentifikasi risiko seseorang mengidap stroke iskemik — stroke yang terjadi karena penyumbatan pembuluh darah otak, sehingga aliran darah ke otak terganggu.


Menurut peneliti, yang mempublikasikan temuannnya dalam Circulation : Journal of the American Heart Association edisi 11 Desember, hasil riset ini seharusnya dapat merangsang peneliti lain untuk lebih mewaspadai serta memberi perhatian terhadap trigliserida. “Dengan adanya deteksi yang lebih efektif akan tingginya kadar trigliserida dalam darah serta pengobatan untuk mengatasi risiko stroke, tentunya hal dapat menurunkan beban klinis dan kesehatan publik akibat penyakit stroke,” ungkap Dr. David Tanne, salah seorang pimpinan riset.

Tanne mengatakan, dari riset beberapa tahun lalu para dokter telah mengetahui bahwa obat penurunkan kadar lemak darah seperti kolesterol juga bisa mencegah penyakit stroke. Namun demikian, lanjutnya, hubungan yang lebih tepat antara lemak (khususnya trigliserida) dan stroke belum begitu jelas.

Dalam riset terbaru ini, Tanne dan rekannya meneliti lebih dari 11 ribu pasien pengidap penyakit jantung koroner yang belum mengalami stroke atau pun transient ischemic attack (TIA) yang biasa juga disebut stroke ringan. Sebagian besar responden penelitian ini adalah pria.

Setelah penelitian sekitar enam hingga tujuh tahun, 487 responden diketahui mengalami TIA. Responden yang mengalami stroke ini memiliki kadar trigliserida yang tinggi dan kolesterol HDL (baik) yang rendah. Setelah memperhitungkan faktor risiko stroke lainnya, responden yang memiliki kadar 200 mg trigliserida per desiliter darah (dL) tercatat mempunyai kecenderungan 30 persen lebih besar mengalami stroke iskemik maupun TIA dibanding responden dengan kadar lemak darah yang rendah.

Kadar trigliserida sejak lama memang selalu diukur bersamaan dengan kadar lemak darah lainnya. Namun menurut Tanne, hingga saat ini jenis lemak itu tidak mendapat perhatian yang cukup serius dalam pencegahan stroke.

Tanne menambahkan pula, untuk menekan kadar trigliserida, seseorang dapat mengubah gaya hidup dengan cara lebih sehat seperti olahraga, menurunkan berat badan serta diet rendah lemak. Beberapa jenis obat penurun kolesterol, kata Tanne, juga dapat menurunkan kadar trigliserida.

Sementara itu, Asosiasi Jantung Amerika merekomendasikan agar seseorang sebaiknya tetap menjaga batas kadar trigliserida di bawah 150mg/dL. Kadar 150 hingga 199 mg/dL dipertimbangkan sebagai batas yang cukup tinggi, 200 hingga 499 mg/dL termasuk level tinggi dan di atas 500 mg/dL dikategorikan sangat tinggi.

Sekitar 80 persen kasus stroke terjadi akibat tersumbatnya pembuluh darah ke otak, sedangkan 20 persen lainnya disebabkan rusaknya pembuluh darah di otak.

Usia penderita stroke belakangan ini makin muda, yakni sekitar 40 tahun. Tidak jarang beberapa pasien yang terserang stroke baru berumur 32 tahun. Ini juga disebabkan pola makan yang cenderung mengonsumsi makanan siap saji atau fast food tanpa diimbangi dengan olahraga secara rutin. (Rtr/ac)

6 komentar:

  1. artikel yg bermanfaat
    ayah saya meninggal 4 bulan yg lalu krn stroke,ayah saya memang memiliki pola hidup yg tidak sehat,disamping ia memiliki "kadar kolesterol dan trigliserida yg tinggi"
    dan saya pun juga pengidap
    dg membaca artikel diatas membuat saya sadar pentingnya olahraga dan mengurangi makanan fast food kesukaan saya
    trims

    BalasHapus
  2. saya dengan "kadar trigliserid" selalu di atas 400, sulit sekali diturunkan tanpa minum obat walaupun sudah diet ketat dan olah raga teratur. apa ada organ yang bermasalah sehingga harus minum obat terus dengan harga yang cukup mahal??

    BalasHapus
  3. Dulu TG saya 330, sekarang <100 karena jalan kaki 40 mnt/hari, makan hanya sampai 70% kenyang dan stop konsumsi gula seperti teh manis, cake, syrup dll. Mungkin pola ini bisa dicoba.

    BalasHapus
  4. apa efeknya jika "trigliserida rendah" dibawah batas normal ? sb trigliserida saya cuma 65

    BalasHapus
  5. Saya bulan desember 2008 triglisiredanya 230 mg/dL, menurut yg sy baca sudah termasuk tinggi, banyak orang bicara harus kurangi makanan yg mengandung karbohidrat, nah selama ini sy kurangi makan nasi & karbohidrat lainnya, ternyata setelah saya cek kembali bulan april 2009 ternyata triglisireda sy sudah turun menjadi 100 mg/dL nah mudah-mudahan bermafaat yg mengalami triglisiredanya tinggi tks

    BalasHapus
  6. Trigliserid saya pernah sampai 2200 dan saya belum merasakan apa-apa hanya pusing-pusing sedikit. Sekarang (kurang lebih 2bulan) sudah turun (meskipun masih tinggi) dilevel 300-400.
    Selama 2 bulan diet ketat, tidak konsumsi daging, minum air putih banyak dibantu obat dokter, rekomendasi suplemen. Selain itu olahraga jalan cepat seminggu 3x minimal 30mnt.

    Yang saya mau tau apakah bila nanti trigliserid ini sampai kebatas normal apakah ada kecenderungan untuk naik lagi?
    Karena saya pernah punya riwayat hyper trigliserid?

    BalasHapus